Disintegrasi Bangsa

1. Analisis faktor penyebab terjadinya pemberontakan PKI di Madiun 
    Pemberontakan ini diawali dengan jatuhnya kabinet RI yang pada waktu itu dipimpin oleh Amir Sjarifuddin karena kabinetnya tidak mendapat dukungan lagi sejak disepakatinya Perjanjian Renville. Lalu dibentuklah kabinet baru dengan Mohammad Hatta sebagai perdana menteri, namun Amir beserta kelompok-kelompok sayap kiri lainnya tidak setuju dengan pergantian kabinet tersebut.

    Dalam sidang Politbiro PKI pada tanggal 13-14 Agustus 1948, Musso, seorang tokoh komunis Indonesia yang lama tinggal di Uni Soviet ini menjelaskan tentang “pekerjaan dan kesalahan partai dalam dasar organisasi dan politik” dan menawarkan gagasan yang disebutnya “Jalan Baru untuk Republik Indonesia”. Musso menghendaki satu partai kelas buruh dengan memakai nama yang bersejarah, yakni PKI. 

    Selanjutnya, Musso menggelar rapat raksasa di Yogya. Di sini dia melontarkan pentingnya kabinet presidensial diganti jadi kabinet front persatuan. Musso juga menyerukan kerja sama internasional untuk menyebarkan gagasannya, Musso beserta Amir dan kelompok-kelompok kiri lainnya berencana untuk menguasai daerah-daerah yang dianggap strategis di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yaitu Solo, Madiun, Kediri, Jombang, Bojonegoro, Cepu, Purwodadi, dan Wonosobo. Penguasaan itu dilakukan dengan agitasi, demonstrasi, dan aksi-aksi pengacauan lainnya.

Pemberontakan PKI Madiun: Latar Belakang, Tokoh, Upaya dan Dampak

2. Analisis faktor penyebab terjadinya pemberontakan DI/TII

    Tujuan Gerakan DI/TII adalah menjadikan Republik Indonesia menjadi negara teokrasi dengan dasar negaranya adalah  agama Islam . Mereka menyatakan “Hukum dalam NII adalah Hukum Islam”, hal ini tertuang dalam undang-undang yang mereka buat yang menyatakan bahwa negara berlandaskan Islam dengan Al Quran dan Hadits sebagai hukum tertinggi.

    Secara tegas Negara Islam Indonesia menyatakan bahwa kewajiban negara untuk melahirkan undang-undang yang berdasarkan syariat Islam, dan menolak keras pada ideologi yang mereka sebut hukum kafir atau ideologi yang tidak sesuai dengan ketentuan Alquran dan Hadits Shahih,

Penyebab umum terjadinya pemberontakan DI/TII, antara lain:

  • Kehampaan kekuatan di Jawa Barat.
  • Kartosuwirjo dan juga rakyat keberatan apabila Jawa Barat diberikan begitu saja pada pihak belanda.
  • Merasa tidak puas dengan keputusan dari perjanjian yang dibuat dengan pihak Belanda yang mengharuskan TNI meninggalkan daerah kantong dan masuk ke wilayah RI.

    Pihak Indonesia meneken perjanjian dengan pihak Belanda yang disebut perjanjian renville dimana dalam perjanjian itu para Tentara Indonesia harus mengosongkan Jawa Barat lalu hijrah ke Jawa Tengah. Kartosuwirjo menganggap bahwa itu adalah  bentuk pengkhianatan yang dilakukan Pemerintah pada perlawanan yang telah dilakukan rakyat Jawa Barat. Hal ini juga disebabkan karena ada sejumlah komandan TNI yang berjanji meninggalkan semua senjata pada saat mereka hijrah mereka di Jawa Barat.

Pemberontakan yang diselesaikan dengan musyawarah – Donisaurus

3. Analisis faktor penyebab terjadinya pemberontakan APRA

    Pada saat berlangsungnya pemberontakan yang dilakukan oleh Angkatan Perang Ratu Adil atau (APRA) yang kala itu langsung dipimpin oleh salah seorang mantan Kapten KNIL yang bernama Raymond Westerling bukanlah suatu pemberontakan yang dilangsungkan dengan secara spontan. Pada kala itu tidak ada perlawanan yang berarti, hal tersebut disebabkan dengan sejumlah faktor. Yang paling utama, yakni dengan disebabkan adanya sebuah serangan yang dilakukan dengan secara tiba-tia, namun tidak ada pembalasan tembakan yang dilakukan sebab pada saat itu orang-orang APRA berbaur dengan orang dari KNIL dan juga KL.

    Namun sedangkan yang melatar belakangi adanya aksi ini, yakni diduga bahwa gerakan APRA ingin mendukung berdirinya negara Pasundan, hal ini agar negara tersebut dapat berdiri tanpa adanya gangguan dari TNI dan menerapkan agar APRA yang bisa dijadikan angkatan perangnya. Namun pada saat itu pasukan dari Divisi Siliwangi TNI dianggap masih belum siap sebab mereka baru saja memasuki Kota Bandung setelah perjanjian KMB. Dimana pada saat berlangsungnya peristiwa tersebut Panglima Siliwangi yakni Kolonel Sadikin dan juga Gubernur dari Jawa Barat Sewaka sedang dalam melakukan sebuah peninjauan ke Kota Subang.

Raymond Westerling - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

4. Analisis faktor penyebab terjadinya pemberontakan G30SPKI

    Letnan Kolonel Untung sebagai pimpinan gerakan memerintahkan kepada seluruh anggota gerakan untuk mulai gerak pada tanggal 1 Oktober 1965. mereka melakukan serangkaian penculikan dan pembunuhan terhadap enam perwira sebagai berikut :

        1. Letnan Jendral Ahmad Yani

        2. Mayor Jendral R Suprapto

        3. Mayor Jendral Haryono Mas Tirtodarmo

        4. Mayor Jendral Siswondo Parman

        5. Brigadir Jendral Donald Izacus Panjaitan

        6. Brigadir Jendral Sutoyo Siswomiharjo

    Ketika terjadinya penculikan Jendral A.H Nasution yang menjadi target penculikan berhasil menyelamatkan diri dengan kaki yang tertembak, namun putrinya yang bernama Ade Irma Suryani Nasution menjadi korban sasaran tembak dan gugur. Ajudan Jendral A.H Nasution yang bernama Letnan Satu Pierre Andreas Tendean juga menjadi korban dan pembantu Letnan Polisi Karel Satsuit Tubun gugur pada saat melakukan perlawanan terhadap gerombolan yang berusaha menculik Jendral A.H Nasution.

G30S/PKI dan Politisasi Fakta Sejarah Indonesia Halaman all ...

5. Analisis faktor penyebab terjadinya pemberontakan Andi Azis

    Faktor penyebab terjadinya pemberontakan :

        1. Menuntut agar pasukan bekas KNIL saja yang bertanggung jawab atas keamanan di Negara Timur.
        2. Menentang masuknya pasukan APRIS dari TNI.
        3. Mempertahankan berdirinya Negara Indonesia Timur.
    Karena tindakan Andi Azis tersebut maka pemerintah pusat bertindak tegas. pada tanggal 8 April 1950 dikeluarkan ultimatum bahwa dalam waktu 4x24 jam Andi Azis harus melaporkan diri ke Jakarta untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. Pasukan harus dikonsinvasi, senjata - senjata dikembalikan dan semua tawanan harus dilepaskan. Kedatangan pasukan pimpinan Worang kemudian disusul oleh pasukan ekspedisi yang dipimpin oleh kolonial A.E Kawilarang pada tangga 26 April 1950 dengan kekuatan dua brigade dan satu batalion diantaranya Brigade Mataram yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Suharto. Kapten Andi Azis dihadapkan ke pengadilan Militer Yogyakarta untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya degan hukuman 15 tahun penjara dan ada yang mengatakan Andi Azis meninggal dunia karena ditembak oleh Suharto.
Tujuan Pemberontakan Andi Azis di Makasar Terhadap Pemerintahan ...
6. Analisis faktor penyebab terjadinya pemberontakan RMS
    Pemberontakan yang mereka lakukan ini merupakan bentuk ketidakpuasan atas kembalinya Republik Indonesia Serikat ke Negara kesatuan Republik Indonesia.

Pemberontakan ini diwarnai dengan unsur KNIL atau het koninklijke Nederlanda(ch) atau secara harfiah merupakan tentara kerajaan Hindia Belanda yang merasa tidak puas karena status mereka yang tidak jelas. Kala itu atas keberhasilan APRIS mengatasi keadaan, menyebabkan banyak masyarakat yang semangat atas kembalinya Republik Indonesia Serikat ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di tengah upaya untuk mempersatukan dari keseluruhan wilayah Indonesia ini, ada berbagai teror dan intimidasi yang mengancam masyarakat. Beberapa teror tersebut antara lain adalah dipimpin oleh seorang Kapten bernama Raymond Westerling. Dengan dibantu oleh anggota polisi dan pasukan KNIL yang merupakan bagian dari Korp Speciale Troepen yang bertempat di Batujajar, Bandung, Jawa Barat ini melakukan aksi teror. Bahkan teror yang dilakukan di Bandun ini hingga menelan korban jiwa.

    Dalam aksi teror tersebut telah terjadi pembunuhan dan penganiayaan. Akibat dari teror tersebut, benih sparatis atau keinginan untuk memisahkan diri pun akhirnya muncul. Beberapa birokrat pemerintah daerah telah memprovokasi masyarakat yang berada di wilayah Ambon. Yaitu bahwa penggabungan Ambon ke wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia akan berdampak buruk dan membahayakan masyarakat di kemudian hari. Atas bahaya tersebut dihimbau untuk seluruh masyarakat agar tetap berwaspada. Pada tahun 1950, tepatnya pada tanggal 20 april telah diajukan mosi tidak percaya kepada parlemen NIT. Hal ini dengan maksud agar kabinet NIT atau Negara Indonesia Timur meletakkan jabatannya untuk bisa bergabung ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kegagalan Andi Andul Azis mengakibatkan berakhirnya Negara Indonesia Timur.

Mr. Dr. Chr. Soumokil - Chris (Christiaan Robbert Steven) Soumokil ...

7. Analisis faktor penyebab terjadinya pemberontakan PRRI - PERMESTA

    Pemberontakan PRRI terjadi di Sumatera sedangkan Permesta terjadi di Sulawesi pada tahun 1956 hingga 1958. Pada pemberontakan ini sebagian perwira tentara di Sumater dan Sukawesi membentuk dewan-dewan regolusi dan merebut kekuasaan dari pemerintah pusat.Dewan dewan ini adalah Dewan  Banteng di Sumatera Barat, Dewan Gajah di Sumatera Utara, Dewan Garuda di Sumatera Selatan dan Dewan Manguni di Manado. Pemeberontakan ini dilandasi kekecewaan para politis dan perwira di daerah atas kebijakan pemerintah pusat Republik Indonesia yang berbasis di Jakarta. Pemerintah pusat dianggap terlalu mengistimewakan pulau Jawa dibanding pulau luar. Selain itu kebijakan pemerintah pusat dianggapnterlalu sentralistis dan tidak memperhatikan kepentingan daerah. 

    Kedekatan presiden Sukarno dengan PKI juga membuat para perwira dan poltisi di daerah tidak senang, karena mereka banyak yang sangat anti komunis dan pro barat. Selain itu pada masa ini Indonesia sangat tidak stabil dalam sisi politis karena sisten Demokrasi Liberal yang menganut pemerintahan parlementer. Pada masa ini kabinet dan perdana menteri berkali kali ganti karena mendapat mosi tidak percaya dari parlemen. Pemberontakan PRRI Permesta ini bisa dilumbuhkan setelah operasi militer yang dipimpin Jenderal Ahmad Yani dan Nasution merebut kota besar basis pendukung PRRi Permesta. Sisa pemberontak menyerahkan diri setelah pemerintah pusat memberikan amnesti atau pengampunan pada bekas pemberontak.

Pemberontakan PRRI/PERMESTA: Latar Belakang, Tokoh, Dampak, Akhir

7. Analisis faktor penyebab terjadinya pemberontakan BFO

    Dalam konferensi Malino di Sulawesi Selatan pada 24 Juli 1946 misalnya, pertemuan untuk membicarakan tatanan federal yang diikuti oleh wakil dari berbagai daerah non RI itu, ternyata mendapat reaksi keras dari para politisi pro RI yang ikut serta. Mr. Tadjudin Noor dari Makasar bahkan begitu kuatnya mengkritik hasil konferensi. Perbedaan keinginan agar bendera Merah-Putih dan lagu Indonesia Raya digunakan atau tidak oleh Negara Indonesia Timur (NIT) juga menjadi persoalan yang tidak bisa diputuskan dalam konferensi. Kabinet NIT juga secara tidak langsung ada yang jatuh karena persoalan negara federal ini (1947).

    Setelah Konferensi Meja Bundar atau KMB (1949), persaingan antara golongan federalis dan unitaris makin lama makin mengarah pada konflik terbuka di bidang militer, pembentukan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) telah menimbulkan masalah psikologis. Salah satu ketetapan dalam KMB menyebutkan bahwa inti anggota APRIS diambil dari TNI, sedangkan lainnya diambil dari personel mantan anggota KNIL. TNI sebagai inti APRIS berkeberatan bekerjasama dengan bekas musuhnya, yaitu KNIL.

    Sebaliknya anggota KNIL menuntut agar mereka ditetapkan sebagai aparat negara bagian dan mereka menentang masuknya anggota TNI ke negara bagian (Taufik Abdullah dan AB Lapian, 2012.). Kasus APRA Westerling dan mantan pasukan KNIL Andi Aziz sebagaimana telah dibahas sebelumnya adalah cermin dari pertentangan ini. Namun selain pergolakan yang mengarah pada perpecahan, pergolakan bernuansa positif bagi persatuan bangsa juga terjadi. Hal ini terlihat ketika negara-negara bagian yang keberadaannya ingin dipertahankan setelah KMB, harus berhadapan dengan.

    Majelis Permusyawaratan Federal - Wikipedia bahasa Indonesia ...

Komentar